Pengomposan adalah cara paling sederhana untuk mengolah sampah organik, yang umumnya menjadi bagian terbesar sampah domestik. Dengan teknik yang benar, sisa makanan dan daun berubah menjadi kompos tanpa bau menyengat. Artikel ini menjelaskan faktor penentu, pilihan metode, dan langkah kerjanya untuk rumah tangga, kawasan, maupun kantin perusahaan.
Di mana posisi pengomposan dalam pengelolaan sampah?
UU No. 18 Tahun 2008 membagi pengelolaan sampah menjadi pengurangan dan penanganan. Pengomposan termasuk pengolahan, yang dilakukan setelah pemilahan. Tanpa pemilahan di sumber, bahan organik tercampur plastik dan kaca sehingga kompos bermutu rendah. Mutu kompos dari sampah organik domestik dapat dibandingkan dengan SNI 19-7030-2004.
Faktor apa yang menentukan keberhasilan?
| Faktor | Kondisi yang dituju |
|---|---|
| Perbandingan karbon dan nitrogen (C/N) | Campuran bahan cokelat dan hijau yang seimbang; C/N bahan awal sekitar 25–30 sering dijadikan patokan |
| Kelembapan | Lembap seperti spons yang diperas, tidak menetes |
| Udara | Cukup oksigen melalui pembalikan atau saluran udara |
| Ukuran bahan | Dicacah agar permukaan lebih luas |
| Suhu | Naik pada fase aktif lalu turun saat matang |
Bahan hijau seperti sisa sayur kaya nitrogen dan basah; bahan cokelat seperti daun kering dan serbuk gergaji kaya karbon dan kering. Keduanya perlu dicampur.
Metode apa saja yang tersedia?
| Metode | Cocok untuk | Catatan |
|---|---|---|
| Komposter tong atau drum | Rumah tangga, kantor kecil | Perlu pengadukan dan saluran lindi |
| Keranjang takakura | Rumah tangga | Memakai starter dan bantalan sekam |
| Lubang biopori | Halaman | Kapasitas kecil, sekaligus resapan air |
| Windrow atau gundukan terbuka | Kawasan, TPS 3R | Perlu lahan dan pembalikan berkala |
| Bak atau kotak beraerasi | Kantin, pasar | Lebih rapi dan terkendali |
| Vermikompos | Skala kecil sampai menengah | Memakai cacing; peka terhadap suhu |
| Larva lalat tentara hitam | Sisa makanan dalam jumlah besar | Menghasilkan larva dan sisa olahan |
Bagaimana langkah kerja pengomposan aerob?
- Pilah bahan organik dan singkirkan plastik, logam, dan kaca.
- Cacah bahan berukuran besar.
- Campur bahan hijau dan cokelat; tambahkan kompos matang sebagai starter bila ada.
- Atur kelembapan.
- Susun dalam wadah atau gundukan dengan aliran udara yang cukup.
- Balik secara berkala dan periksa suhu serta kelembapan.
- Biarkan matang, lalu ayak dan simpan di tempat teduh.
Apa tanda kompos sudah matang?
- Berwarna cokelat kehitaman dan remah.
- Berbau seperti tanah.
- Suhu mendekati suhu udara sekitar.
- Bahan asal tidak lagi dikenali.
- Volume menyusut nyata.
Masalah apa yang sering muncul?
| Masalah | Penyebab umum | Perbaikan |
|---|---|---|
| Bau busuk | Terlalu basah, kurang udara | Tambah bahan cokelat, balik |
| Bau amonia | Terlalu banyak bahan hijau | Tambah bahan kaya karbon |
| Tidak panas | Terlalu kering atau tumpukan terlalu kecil | Tambah air dan bahan |
| Lalat dan belatung | Sisa makanan terbuka | Tutup dengan bahan cokelat atau kompos |
| Lindi menggenang | Drainase buruk | Perbaiki alas dan tampung lindi |
Apa yang tidak boleh masuk kompos?
Kain majun berminyak, tanah tercemar oli, abu dari pembakaran limbah, sisa bahan kimia, dan kemasan pestisida tidak boleh dikompos. Bahan tersebut dikelola sebagai limbah B3; ciri-cirinya dijelaskan di artikel perbedaan limbah B3 dan limbah non-B3.
Pelatihan dan penerapan di perusahaan
Pelatihan pengomposan umumnya memadukan teori singkat dan praktik membuat campuran, memantau suhu, serta memanen kompos. Di perusahaan, pengomposan sisa kantin menjadi bagian dari manajemen sampah domestik dan dapat diperkenalkan bersama pelatihan awareness limbah B3 untuk karyawan. Cakupan dan biaya dikonfirmasi lewat penawaran resmi.
Referensi
- UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
- PP No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
- SNI 19-7030-2004 Spesifikasi kompos dari sampah organik domestik



